Fakultas Ushuluddin UIN Ar-Raniry Bahas Genealogi Sanad dan Tantangan Hadis di Era Digital



BANDA ACEH, 28 Oktober 2026 — Di tengah derasnya arus informasi digital, masyarakat dituntut semakin kritis dalam memeriksa sumber dan memahami hadis Nabi Muhammad saw. Persoalan ini menjadi salah satu pembahasan dalam kajian bertema “Kedudukan Hadis dan Genealogi Sanad serta Tantangannya di Era Digital” yang berlangsung di Aula Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Ar-Raniry Banda Aceh, Rabu (28/10/2026).

Kegiatan ini menghadirkan Dr. Nurkhalis Mukhtar, Lc., M.A. sebagai pemateri yang juga merupakan dosen di Pascasarjana Institut Ilmu Al-Qur’an (IIQ) Jakarta. Ia membahas kedudukan hadis sebagai penjelas Al-Qur’an, pentingnya sanad dalam menjaga kesinambungan keilmuan Islam, serta tantangan kajian hadis di tengah pesatnya perkembangan teknologi digital.

Dalam pemaparannya, Dr. Nurkhalis menjelaskan bahwa hadis memiliki peran penting dalam memberikan perincian terhadap ayat-ayat Al-Qur’an, khususnya dalam pelaksanaan ibadah. Tata cara salat dan praktik wudu, misalnya, dijelaskan lebih terperinci melalui hadis dan praktik Rasulullah saw.

Pembahasan kemudian berlanjut pada genealogi sanad dan jaringan keilmuan ulama Nusantara, khususnya ulama Aceh serta keterhubungannya dengan ulama dari berbagai wilayah. Hubungan guru dan murid menjadi bagian penting dalam pewarisan ilmu hadis dari generasi ke generasi.

Untuk menegaskan pentingnya sanad, pemateri mengutip perkataan Abdullah bin al-Mubarak, “Al-isnādu minad-dīn, wa laulal-isnādu laqāla man syā’a mā syā’a,” yang berarti sanad merupakan bagian dari agama. Ungkapan ini menegaskan pentingnya menelusuri sumber dan menjaga keabsahan periwayatan hadis.

Sementara itu, Ketua Program Studi Ilmu Hadis Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Ar-Raniry, Lazuardi Muhammad Latif, Lc., M.Ag., Ph.D., yang hadir sebagai perwakilan dekan, menekankan pentingnya sikap kritis dalam menyikapi hadis yang beredar di ruang digital.

“Di era digital, kita dituntut semakin kritis dan teliti dalam mencari serta memahami hadis. Saat ini, semakin banyak hadis yang beredar di media sosial, termasuk hadis daif yang perlu ditelusuri kualitas dan sumber periwayatannya. Karena itu, masyarakat harus membiasakan diri memeriksa keabsahan hadis sebelum mempercayai dan menyebarkannya,” ujarnya.

Melalui kajian ini, Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Ar-Raniry mendorong penguatan tradisi keilmuan Islam sekaligus meningkatkan kesadaran akan pentingnya memverifikasi informasi keagamaan. Di tengah kemudahan akses digital, ketelitian dalam menelusuri sanad dan memeriksa kualitas hadis menjadi langkah penting agar informasi yang diterima dan disebarkan dapat dipertanggungjawabkan.

0/Post a Comment/Comments

Breaking News

#

Featured

Publikasi Jurnal Nusantara

Publikasi Jurnal Nusantara
Kunjungi Sekarang